Integrasi Sistem Operasi LINUX dan WINDOWS

September 26, 2008

Perkembangan teknologi informasi, dewasa ini terjadi sangat pesat, baik ditinjau dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunak. Dengan demikian, mau tidak mau pustakawan harus siap menerima perubahan dari sisi manapun. Telah lama kita sebagai pemakai teknologi informasi bergantung pada suatu produk perangkat lunak khususnya Microsoft karena keterpaksaan, dan rata-rata kita masih menggunakan secara illegal. Dengan hadirnya sistem operasi “open source”, yang dikenal dengan nama Linux, penulis ingin berbagi pengalaman yang hasilnya dapat menjadi metode pembelajaran integrasi sistem operasi Linux dan Windows. Tetapi bukan suatu keharusan, bisa saja kita pilih untuk menggunakan kedua-duanya, misal sistem operasi Microsoft kita beli dengan “license”, dan program lainnya kita gunakan “Linux” yang bersifat “free” atau sebaliknya. Motif ini timbul akibat dari beberapa faktor : pertama, banyak virus komputer yang mudah masuk ke dalam sistem operasi Windows. Kedua, maraknya operasi penggunaan perangkat lunak bajakan. Yang ketiga, hadirnya sistem operasi baru yang bersifat “Open Source” dan “free” meskipun tidak seluruhnya. Dan yang terakhir Linux dikenal sebagai sistem operasi untuk server yang cukup handal, sehingga pustakawan wajib untuk mendalaminya. Dari beberapa pengalaman berbentuk tulisan ini, diharapkan akan muncul tulisan baru dari pustakawan lain, yang tentunya dapat bermanfaat bagi pustakawan (pengguna baru Linux yang dikenal sebagai Newbie). Metode pembelajaran pertama, kita dapat menginstal perangkat lunak sejenis Microsoft Office dengan produk lain yang lebih dikenal OpenOffice.org (Linux) ke dalam Windows. Metode kedua, instalasi sistem operasi menjadi “dual boot” yang lebih dikenal dengan istilah partisi, sehingga Microsoft dapat tetap digunakan bersama Linux yang diinstal pada partisi berbeda. Yang ketiga, menggunakan bantuan “virtual machine” yang disebut “VMWare”, dimana Linux secara virtual dapat diinstal ke dalam Windows tanpa merusak sistem yang sebelumnya ada. Sedang metode keempat, “Cross Over Office Professional” dapat digunakan sebagai media install platform Windows, misal Adobe Photoshop Professional dapat diinstal ke dalam Linux. Dan yang terakhir, dapat menggunakan salah satu distro Linux yang diinstal ke dalam komputer secara langsung. Dari berbagai distro Linux yang dicoba, hampir seluruhnya dapat mengenali komponen yang terpasang di mainboard, seperti : VGA card; Sound card; LAN card dan Modem internal (jika ada). Hambatan ada namun kurang berarti, ada beberapa printer terutama Canon PIXMA iP1000 ke atas masih harus mencari driver yang berjalan di Linux. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba dengan sistem operasi “open source”, yang “free” baik di rumah ataupun di perpustakaan.

PENDAHULUAN

Di Indonesia, komputer sudah dikenal sejak tahun 80an, dimana ketika itu sistem operasinya masih belum terlihat dominannya. Namun sekitar 25 tahunan kemudian ternyata pemakai PC mayoritas didominasi dengan basis OS Microsoft Windows, terlepas dari penggunaan yang legal dan tidak legal. Di dunia Perpustakaan, efektif digunakan sebagai pangkalan data sejak sekitar tahun 1988 an—menggunakan perangkat lunak yang dikenal dengan CDS/ISIS berasal dari UNESCO dengan basis sistem operasi DOS. Selain itu juga digunakan berbagai perangkat lunak pengolah kata seperti Wordstar; Chiwritter; spreadsheet Lotus. Perkembangan begitu cepat, Microsoft Windows hadir mulai dari versi 3 hingga Windows Vista keperpihakan masih didominasi oleh MS Windows. Kita seharusnya sebagai pemakai tidak bisa mengandalkan atau fanatik dengan satu sistem operasi saja ketika kita berhubungan dengan pihak lain. Kita sebagai pustakawan harus mau melihat bagaimana Linux, yang merupakan pendatang yang masih relatif baru, dapat berhubungan dan hidup harmonis dengan Microsoft Windows, sang penguasa sistem operasi saat ini.Dalam kenyataan, windows masih merupakan sistem operasi yang menguasai pasar di desktop, menguasai hampir 90%. Di dunia serverpun MS Windows tetap merajai, walaupun tidak sedominan di desktop. Sementara, Linux yang baru berumur sekitar 10 tahun-an, terhitung baru apabila dibandingkan dengan MS Windows yang sudah berkembang sejak tahun 80-an.Baru sekitar dua bulan ini saya menggunakan Linux. Awalnya juga karena terpaksa. Pada saat sistem Windows saya sering terkena virus. Serta didorong dengan keinginan saya yang besar untuk mengenal Linux. Setelah sekali mencoba jadi ketagihan untuk menggunakan Linux. Bahkan kesulitan-kesulitan yang saya hadapi saya jadikan tantangan yang sangat berharga bagi diri saya. Melalui internet saya coba untuk menelusuri informasi tentang Linux; dari situlah saya dapatkan dua web yang menawarkan berbagai Distro Linux. Ketika itu, saya memperoleh penjelasan dari pihak penjualannya, bahwa Mandriva 2007 dapat berjalan di dua sistem operasi, yang dikenal dengan istilah “dual boot”, artinya kita dapat memilih sistem operasi yang akan kita gunakan Linux atau Windows. Setelah saya memperoleh installer Mandriva 2007 yang terdiri dari 4 CD, dengan rasa percaya diri instalasi segera saya mulai, CD1 saya masukkan ke dalam CD ROM.

PENGALAMAN YANG BERHARGA

Biasanya dalam pemilihan media booting harus melakukan tekan F8, kemudian saya pilih device booting system dengan menggunakan CD. Proses berjalan selang satu jam instalasi selesai. Setelah proses restart komputer, ternyata menghasilkan partisi C dan D Windows termasuk direktori dan file-file hilang terformat oleh Linux dan OS yang terinstal adalah Mandriva 2007. Gembira instalasi Linux Mandriva 2007 sukses, tetapi kecewa kehilangan Windows beserta direktori dan file2nya. Dari pengalaman ini saya makin dibuat penasaran. Saya yakin komputer saya dapat bekerja dengan dua OS pilihan yaitu Windows atau Linux., maka instalasi kedua saya ulangi dengan menginstal Windows kembali. Informasi dari teman-teman, saya dianjurkan membagi partisi C menjadi dua bagian menggunakan software Partision Magic. Padahal penggunaan software inipun saya masih awam, namun dengan semangat yang kuat cara pengoperasian Partision Magic dapat saya lakukan dengan mudah. Partici C Windows saya bagi dua, yang satu tetap digunakan sebagai media OS Windows, dan bagian lain akan saya gunakan sebagai media OS Linux Mandriva 2007. Instalasi kedua saya masih mengalami kegagagalan lagi. Saat itu saya hampir putus asa, bertanya kesana-sini jawaban mereka mengatakan tetap sama bisa berjalan dua OS. Informasi tersebut hanya sebatas bisa menggunakan pastisi yang lain dan kegagalan saya tidak ditunjukkan sebab-sebabnya. Dengan keinginan yang kuat saya ulangi proses instalasi ketiga dengan pembagian partisi C, saat saya gunakan Partision Magic ada beberapa pilihan formatnya NTFS; FAT32; atau Linux. Pembagian partisi C yang kedua saya pilih format Linux. Setelah itu CD install Linux Mandriva 2007 saya masukkan dengan proses pilih media booting CD. Dalam proses instalasi yang ketiga ini saya perhatikan setiap winzard yang ada dengan seksama dan hati-hati. Tahap-tahap proses dari CD1-CD4 berakhir kurang lebih 1 jam. Ketika instalasi Linux berakhir maka komputer mulai restart, dengan perasaan berdebar-debar komputer berhenti sejenak dan muncul pilihan OS : Linux dan Windows. Mulai saat itulah saya menggunakan dua OS baik di komputer rumah maupun di perpustakaan. Operating Systems MS Windows, saya gunakan jika pekerjaan menuntut untuk menggunakannya karena belum didukung oleh OS Linux. Sedangkan Linux saya gunakan untuk pembelajaran dan mengenal lebih dalam agar saya dapat menggunakan secara lebih optimal pada OS ini.

PENGENALAN KOMPONEN PERANGKAT KERAS

Dalam pengenalan komponen yang terpasang dalam perangkat keras, Linux sudah cukup bagus mulai dari—sound; VGA; sampai LAN card, namun untuk printer saya menemui hambatan. Dari distro Linux yang pernah penulis coba dan gunakan rata-rata tersedia driver printer tipe yang lama seperti pada Canon : BJC; HP; Brother; Epson. Jika Canon yang digunakan type iP1000; 1200; 1300; 1500; 1600; dan 1700 sudah pasti kita harus menggunakan driver yang berjalan di Linux. Hambatan pada driver printer membuat saya hampir putus asa kedua. Saya berusaha mencari informasi bagaimana mendapatkan driver printer pada Linux, ada yang memberikan info menggunakan TurboPrint for Linux dimana CD ini berisi informasi tentang driver printer, dengan harga per keping Rp.10.000,- Setelah CD saya dapatkan, dengan percaya diri dan berharap besar CD tersebut saya instal ke dalam Linux saya—apa yang terjadi ternyata driver printer tidak mendukung printer Canon iP 1300 yang saya miliki. Putus asa masih belum berakhir, mendapatkan lagi informasi untuk berselancar lagi melalui web site yang beralamat Openprint.org dari web ini masih belum saya dapatkan driver yang saya cari. Kemudian saya masuk ke dalam mailing list, melalui fasilitas inilah saya menemukan beberapa tanya-jawab orang-orang dari seluruh dunia, diantaranya Canon PIXMA iP 1300 pada Linux ada yang menyarankan menggunakan Canon iP 2200. Dan saya berusaha untuk mendownload driver printer yang saya butuhkan melalui web, setelah saya dapatkan saya coba untuk menginstallnya ke Linux saya. Dalam menginstall driver-driver pada Linux tidak seperti pada MS Windows—diperlukan jam terbang seperti pada pilot pesawat tentunya. Sejak saya berhasil mendapat driver printer yang saya butuhkan, saya mulai sedikit jatuh hati pada Linux—apalagi terdengar maraknya operasi aparat pada software bajakan. Sampai saat ini penulis sudah mengumpulkan beberapa distro Linux baik CD maupun DVD kurang-lebih sekitar 35 an jenis distro, dan telah merogoh kocek hampir sekitar Rp.600-700 ribuan.Aplikasi yang paling sering saya gunakan saat ini adalah OpenOffice. Hal ini tak terlepas dikarenakan aktivitas saat ini lebih banyak berususan dengan pembuatan dokumen; spreadsheet; membuat presentasi dan sedikit data base. Untuk desktop environment saya menggunakan KDE. Untuk atitivitas internet saya lebih suka menggunakan Opera yang sudah tersedia ketika instal Linux. Alasan saya menyukai Opera, karena browser ini dapat digunakan sebagai email client, membuat catatan, dan melakukan download file. Jangan hanya mendengar, kata seorang filosofi namun coba dan terus cobalah. Hal ini seperti kita tahu bahwa Linux sudah banyak digunakan sebagai server otomasi di berbagai perpustakaan–-tidakkah kita ingin sedikit ikut masuk untuk mendalaminya—paling tidak bagaimana menginstal Linux; bagaimana mengatur jaringan; yang jelas banyak manfaat dari pengalaman-pengalaman yang berguna bagi pustakawan lain.Beberapa solusi, migrasi dari sebuah sistem yang satu dengan yang lain perlu pembelajaran dan pengenalan. Bagi pemula (istilah di kalangan Kelompok Pengguna Linux sebagai newbie) sementara dapat tetap menggunakan OS Microsoft Windows; kita dapat menginstal OpenOffice 2.XXX for Windows, yang bisa kita cari dengan menggunakan web browsing google—dan kita dapat mendownload secara gratis. Jika kesulitan saya akan bantu hanya dengan mengganti harga CD. Dari sinilah kita akan membiasakan dan mengenal apa yang disebut dengan perangkat lunak Open Source. Semua kebutuhan yang ada di Microsoft Office sudah tersedia di dalamnya.

sumber: librarycorner.org

Entry Filed under: Sistem Operasi. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

September 2008
M T W T F S S
    Oct »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Most Recent Posts